Minggu, 02 November 2014

Kurang Vit.D malah bikin panjang umur

Kurang Vit.D malah bikin panjang umur ?

Kekurangan vitamin D
identik dengan gangguan
kesehatan seperti gigi mudah rusak,
otot kejang dan pertumbuhan
tulang yang tidak normal. Namun
sebuah studi baru mengungkapkan
fakta yang mengejutkan: kondisi ini
menyebabkan seseorang bisa
berumur panjang.
"Kami menemukan bahwa riwayat
panjang umur yang dimiliki sebuah
keluarga dikaitkan dengan
rendahnya kadar vitamin D dan
rendahnya frekuensi variasi alel di
dalam gen CYP2R1 yang ada
kaitannya dengan tingginya kadar
vitamin D seseorang," ungkap
peneliti Dr. Diana van Heemst dari
Department of Gerontology and
Geriatrics, Leiden University Medical
Center, Leiden, Belanda.
Temuan ini diperoleh setelah
peneliti mengamati data 380
keluarga yang setidaknya memiliki
dua saudara berusia 90 tahun ke
atas (89 tahun ke atas untuk pria dan
91 tahun ke atas untuk wanita).
Studi itu melibatkan saudara,
keturunan (anak) dan pasangan
anak dengan total partisipan
berjumlah 1.038 anggota keluarga
nanogenarian (orang-orang berusia
90 tahun ke atas) dan 461 partisipan
sehat.
Keturunan nonagenarian dilibatkan
karena peneliti kesulitan merekrut
partisipan dengan kelompok usia
yang sama dan masih sehat.
Sedangkan pasangan keturunan
nanogenarian diikutsertakan karena
peneliti menganggap mereka rata-
rata memiliki usia dan faktor
lingkungan yang sama, terutama
yang bisa mempengaruhi kadar
vitamin D-nya.
Kemudian peneliti beberapa faktor
yang mempengaruhi kadar vitamin
D partisipan, mulai dari kadar 25-
hidroksivitamin D [25(OH)D] atau
calcidiol (salah satu bentuk vitamin
D yang paling banyak tersedia di
dalam tubuh manusia), penggunaan
tanning bed, usia, jenis kelamin,
indeks massa tubuh (BMI), konsumsi
suplemen vitamin dan fungsi ginjal.
Tak hanya itu, peneliti mengamati
pengaruh variasi genetik dari 3 gen
yang berkaitan dengan tinggi
rendahnya kadar vitamin D dalam
tubuh.
"Hasilnya, kami menemukan bahwa
keturunan nonagenarian yang
setidaknya memiliki satu saudara
yang juga nonagenarian dilaporkan
memiliki kadar vitamin D yang lebih
rendah ketimbang partisipan yang
sehat, terlepas dari sejumlah faktor
lain dan ada tidaknya SNP (single
nucleotide polymorphisms) yang
juga mempengaruhi tinggi
rendahnya kadar vitamin D dalam
tubuh partisipan," ungkap peneliti.
"Keturunan nonagenarian itu juga
diketahui memiliki frekuensi varian
genetik di dalam gen CYP2R1-nya
yang lebih rendah. Varian genetik
dari gen inilah yang memberikan
kecenderungan pada seseorang
agar memiliki kadar vitamin D yang
tinggi di dalam tubuhnya," lanjutnya
seperti dilansir dari sciencedaily,
Rabu (7/11/2012).
Temuan ini pun semakin
mendukung kaitan antara
rendahnya kadar vitamin D dan
riwayat panjang umur sebuah
keluarga, terutama dengan
ditemukannya fakta bahwa
keturunan nonagenarian mungkin
memiliki lebih banyak protein yang
diduga dapat menekan proses
penuaan ketimbang partisipan yang
sehat.
Kendati begitu, peneliti studi yang
telah dipublikasikan dalam jurnal
CMAJ (Canadian Medical Association
Journal) ini mengaku masih
memerlukan studi lanjutan untuk
memastikan temuan ini.


Sumber https://www.facebook.com/pages/Tips-Kesehatan/519607541408225

Tidak ada komentar:

Posting Komentar